(0)![]()
Analisis pertandingan antara Napoli dan Lecce
Antonio Conte, lahir di Lecce, memulai karier pemainnya di klub kampung halamannya, menghabiskan enam tahun pertama (1985–1991) di sana sebelum menjadi legenda Juventus. Namun, meskipun merupakan putra daerah, Conte tidak pernah mendapatkan cinta sepenuhnya dari para penggemar Lecce. Segalanya bermula pada Agustus 1997, ketika ia merayakan gol penentu kemenangan 2-0 Juventus atas Lecce dengan selebrasi sliding.
Sembilan tahun kemudian, di putaran terakhir Serie B 2007/08, Conte kembali menimbulkan kemarahan ketika merayakan kemenangan Bari di kandang Lecce. Ironisnya, Bari saat itu tidak memiliki target apa pun, sementara kekalahan 1-2 membuat Lecce kehilangan kesempatan promosi langsung. Insiden ini tetap tak termaafkan oleh para pendukung kota, meskipun Conte kemudian menjadi pelatih sukses.
Saat ini, ketika Lecce berjuang untuk bertahan dari degradasi, kemungkinan Napoli di bawah Conte meraih poin di stadion klub Puglia semakin memperdalam kebencian penggemar. Namun, kenyataannya, skenario ini tidak akan mudah terjadi.
Lecce saat ini dilatih oleh Eusebio Di Francesco, yang dianggap sebagai salah satu “pahlawan gagal” Italia dalam dunia kepelatihan. Dalam 15 tahun terakhir, Di Francesco adalah satu-satunya pelatih Italia yang pernah menyingkirkan Barcelona di Liga Champions tanpa mencapai final. Rekan senegara lain yang pernah mengalahkan Barca, seperti Carlo Ancelotti, Roberto Di Matteo, Simone Inzaghi, atau Max Allegri, berhasil mencapai final dan menjadi juara atau runner-up.
Setelah dipecat Roma pada Maret 2019, Di Francesco terutama melatih tim-tim papan tengah Serie A atau tim-tim papan atas Serie B. Musim ini bisa dianggap musim paling suksesnya dalam tujuh tahun terakhir, meski Lecce masih berada di posisi ke-16, hanya tiga poin di atas zona degradasi. Meski begitu, Lecce pasti akan bermain dengan semangat penuh untuk membuat Napoli di bawah Conte menghadapi 90 menit yang sulit di kandang mereka.
