(0)![]()
Analisis pertandingan antara Lazio dan Parma
Parma sejak lama dianggap sebagai klub kecil di Italia, sering naik turun antara Serie A dan Serie B. Namun saat ini, klub dari Emilia-Romagna ini menjadi nama yang menarik perhatian pengamat sepak bola Italia. Terinspirasi oleh kesuksesan Como beberapa tahun lalu, Parma berani menunjuk pelatih asal Spanyol — bukan bintang terkenal seperti Cesc Fabregas, melainkan sosok yang relatif tidak dikenal, Carlos Cuesta.
Pelatih Cuesta, lahir tahun 1995, belum pernah bermain sepak bola profesional, namun ia membawa angin segar bagi Parma. Musim lalu, Parma hanya selamat dari degradasi berkat performa akhir musim yang impresif di bawah arahan pelatih Cristian Chivu, tetapi musim ini tim Ennio Tardini tampil stabil sejak awal, selalu menjaga posisi aman. Dengan gaya tangguh dan ide kreatif Cuesta, Parma memperlihatkan citra yang benar-benar baru.
Sepak bola Italia secara umum, dan tim nasional khususnya, membutuhkan pemikiran muda yang berani bereksperimen dan mengubah cara pandang, untuk secara bertahap menghidupkan kembali seluruh sistem sepak bola. Parma musim ini menjadi contoh nyata, menjadi panutan bagi klub lain untuk meniru.
Sementara itu, Lazio menunjukkan stagnasi di bawah pelatih Maurizio Sarri dengan pemain yang rata-rata hanya memiliki kualitas sedang. Peluang mereka untuk lolos ke kompetisi Eropa melalui Serie A musim depan hampir tertutup. Presiden Claudio Lotito, yang sudah terlalu lama memimpin, juga perlu melakukan perubahan besar untuk membangkitkan klub ibu kota ini.
Meskipun sebagian besar pemain Parma masih relatif tidak dikenal, tim ini berhasil mendapatkan respek dari para ahli Italia. Dengan semangat dan gaya permainan yang mengesankan, Parma sepenuhnya mampu merebut poin di Stadion Olimpico milik Lazio.
